Saturday, August 19, 2006
ketika perpustakaan tidak lagi sepi
gimana ya membuat sebuah perpustakaan yang menjadi sebuah tempat tujuan yang membetahkan dan mengasikkan?
"kalo menurutku sich harus bersih, ber-AC, dan punya toilet", kata kawan sekantor. tapi seorang pelanggan ibu-ibu berpendapat,"kalo aku sich pokoknya kalo di perpus itu ada koleksi masak-memasaknya aku paling demen deh." lain lagi kalo seorang anak TK yang ngomong. "kalo saya, perpus yang aku senangin tuh kalo ada komik sinchan."...
yach...itulah namanya pelanggan. maunya sangat beragam dan tak bisa dikira. semuanya aneh-aneh dan penuh kejutan. tapi dari ke-nyeleneh-an itu menjadikan nilai positif bagi sebuah perpustakaan untuk mampu mewujudkannya untuk pelanggan. ya HANYA UNTUK PELANGGAN. karena bisa dipastikan perpustkaaan tanpa pelanggan maka tidak akan terjadi transfer pengetahuan. nah ketika perpustakaan menjadi sepi maka dia sebenarnya juga tidak mempunyai pelanggan. tidak mempunyai bisa jadi karena tidak bisa menarik pelanggan atau malah sudah ditinggalkan pelanggan. jadi jika perpustakaan tidak mau lagi sepi, maka dia harus bisa menciptakan, berhubungan dan melayani pelanggan. tetapi sudahkah perpustakaan indonesia demikian?
"kalo menurutku sich harus bersih, ber-AC, dan punya toilet", kata kawan sekantor. tapi seorang pelanggan ibu-ibu berpendapat,"kalo aku sich pokoknya kalo di perpus itu ada koleksi masak-memasaknya aku paling demen deh." lain lagi kalo seorang anak TK yang ngomong. "kalo saya, perpus yang aku senangin tuh kalo ada komik sinchan."...
yach...itulah namanya pelanggan. maunya sangat beragam dan tak bisa dikira. semuanya aneh-aneh dan penuh kejutan. tapi dari ke-nyeleneh-an itu menjadikan nilai positif bagi sebuah perpustakaan untuk mampu mewujudkannya untuk pelanggan. ya HANYA UNTUK PELANGGAN. karena bisa dipastikan perpustkaaan tanpa pelanggan maka tidak akan terjadi transfer pengetahuan. nah ketika perpustakaan menjadi sepi maka dia sebenarnya juga tidak mempunyai pelanggan. tidak mempunyai bisa jadi karena tidak bisa menarik pelanggan atau malah sudah ditinggalkan pelanggan. jadi jika perpustakaan tidak mau lagi sepi, maka dia harus bisa menciptakan, berhubungan dan melayani pelanggan. tetapi sudahkah perpustakaan indonesia demikian?
