Sunday, April 15, 2007
ngantuk vs jum’atan
kenapa ya saat jum’atan sebagian besar jamaah pada ngantuk? Sampai saat ini aku ga tahu apa penyebabnya. Kadang terpikir membuat suasana jum’atan yang lebih segar dan mengasikkan. Sehingga rasa ngantuk tidak akan terjadi lagi.
Berikut beberapa alasan penyebab ngantuk itu :
1. emang karena jam ngantuk (antara jam 11 sampai jam 1 siang). Ini menjadi ujian bagi setiap orang untuk melawannya (?!?!?)
2. puncak rasa capek. Biasanya waktu jum’atan adalah waktu dimana kondisi badan sedang fit. Sehingga saat jum’atan malah dimanfaatkan untuk ”istirahat”.
3. tema khotbah yang bertele-tele dan biasanya panjang.
4. khotib tidak bersemangat (kurang berapi-api) dalam berkhotbah. Jamaah pun akhirnya menangkap pesan khotbah bagaikan di-nina bobo-kan.
5. suasana masjid yang sejuk dan semilir karena kipas angin dan angin sepoi-sepoi di siang hari.
6. kondisi jamaah yang memang sebagian besar pada ngantuk, sehingga mengkondisikan suasana masjid menjadi suasana yang mengantukkan.
7. suara muadzin yang melantunkan adzan sangat lembut dan kurang membakar gairah jamaah untuk lebih bersemangat dalam menjalankan ibadah.
Haaaah...ternyata banyak juga penyebab kenapa jum’atan identik dengan ngantuk...
Apakah jum’atan perlu sebuah EO (event organizer) yang bisa membuat acara dan suasana jum’atan menjadi riang? Tentunya tanpa mengurangi makna inti dari rangkaian jum’atan tersebut. Kiranya perlu juga ya kalo seandainya jum’atan dikasih sedikit sentuhan agar tidak membuat ngantuk jamaah. Tapi afdol dan boleh kah? dan apa itu?
Beberapa penyebab tersebut mudah-mudahan dapat dijadikan titik tolak dalam mengubah jum’atan menjadi lebih ”hidup”. setidaknya menjadi bahan renungan bagi kita. apakah benar itu semuanya? kalo benar, berarti kita wajib merubahnya. Halo depag, MUI, ormas islam dll...apakah ada cara lain untuk tidak ”menidurkan” jamaah saat jum’atan?
Berikut beberapa alasan penyebab ngantuk itu :
1. emang karena jam ngantuk (antara jam 11 sampai jam 1 siang). Ini menjadi ujian bagi setiap orang untuk melawannya (?!?!?)
2. puncak rasa capek. Biasanya waktu jum’atan adalah waktu dimana kondisi badan sedang fit. Sehingga saat jum’atan malah dimanfaatkan untuk ”istirahat”.
3. tema khotbah yang bertele-tele dan biasanya panjang.
4. khotib tidak bersemangat (kurang berapi-api) dalam berkhotbah. Jamaah pun akhirnya menangkap pesan khotbah bagaikan di-nina bobo-kan.
5. suasana masjid yang sejuk dan semilir karena kipas angin dan angin sepoi-sepoi di siang hari.
6. kondisi jamaah yang memang sebagian besar pada ngantuk, sehingga mengkondisikan suasana masjid menjadi suasana yang mengantukkan.
7. suara muadzin yang melantunkan adzan sangat lembut dan kurang membakar gairah jamaah untuk lebih bersemangat dalam menjalankan ibadah.
Haaaah...ternyata banyak juga penyebab kenapa jum’atan identik dengan ngantuk...
Apakah jum’atan perlu sebuah EO (event organizer) yang bisa membuat acara dan suasana jum’atan menjadi riang? Tentunya tanpa mengurangi makna inti dari rangkaian jum’atan tersebut. Kiranya perlu juga ya kalo seandainya jum’atan dikasih sedikit sentuhan agar tidak membuat ngantuk jamaah. Tapi afdol dan boleh kah? dan apa itu?
Beberapa penyebab tersebut mudah-mudahan dapat dijadikan titik tolak dalam mengubah jum’atan menjadi lebih ”hidup”. setidaknya menjadi bahan renungan bagi kita. apakah benar itu semuanya? kalo benar, berarti kita wajib merubahnya. Halo depag, MUI, ormas islam dll...apakah ada cara lain untuk tidak ”menidurkan” jamaah saat jum’atan?
